Ternyata banyak lulusan Informatika yang tidak bisa pemrograman


Beberapa hal yang saya pikir menjadi alasan kenapa banyak lulusan teknik informatika (di Indonesia) tidak bisa memrogram bisa datang dari dua macam faktor.
Faktor internal/pola pikir yang tertanam pada diri sendiri:
  • Adanya miskonsepsi bahwa topik yang dipelajari pada saat kuliah tidak berhubungan dengan pekerjaan. Hal ini juga sering saya lihat di berbagai lulusan tidak hanya informatika di mana mahasiswa menganggap bahwa topik yang dipelajari di kelas tidak ada hubungannya dengan dunia kerja dan yang penting adalah ijazah dari jurusan yang tepat (bisa diamati dari banyak pertanyaan di Quora yang menanyakan jurusan yang tepat untuk bekerja di bidang terkait teknologi informasi). Implikasinya adalah ketika berkuliah hanya asal menyelesaikan tugas dan ketika selesai tidak ada keahlian yang ditawarkan. Mungkin keadaan yang penting ijazah bisa benar untuk beberapa jurusan lain namun untuk masuk ke teknologi informasi keahlian yang sebenarnya lebih penting daripada selembar ijazah dan keahlian tersebut adalah memrogram :D
  • Miskonsepsi kalau setelah selesai kuliah informatika maka proses belajar sudah selesai. Anda salah besar Fergusso, kuliah ini hanya icip-icip apa itu bidang teknik informatika, cabang-cabang apa saja yang bisa dipelajari, dan coba-coba membuat program sendiri. Selebihnya ya silakan dicoba dan dipelajari lebih lanjut, PR pemrograman dari kampus bukan stempel bahwa setelah menyelesaikan tugas kuliah ini maka anda adalah pemrogram ahli seperti bisa menyelesaikan UAN Bahasa Indonesia bukan berarti menjadi ahli Bahasa Indonesia. Banyak mahasiswa yang terkaget-kaget setelah lulus tidak siap banyak teknologi yang harus dipelajari dan keahlian pemrograman yang harus ditingkatkan walaupun bisa menyelesaikan PR algoritma dan struktur data.
  • Pemrogram adalah profesi ‘rendahan’. Karena saya berasal dari angkatan di mana belum ada unicorn dan popcorn, argumen ini yang sering saya dengar dari teman-teman seangkatan saya. Kenapa mau menjadi pemrogram kalau bisa menjadi manager di bidang IT saja dan hanya perlu tahu sedikit-sedikit tentang pemrograman kan toh akhirnya hanya perlu menyuruh orang lain untuk mengerjakan. Sepertinya argumen ini juga masih ada sampai sekarang walaupun pada akhirnya beberapa kenalan saya menyadari kesalahan pola pikir ini dan mulai melatih keahlian pemrograman mereka dan buktinya bisa juga menjadi pemrogram handal.
Faktor eksternal:
  • Pengajar yang tidak kompeten. Seperti yang sudah disebutkan argumen-argumen lain bahwa banyak pengajar di kuliah informatika yang dirinya sendiri tidak bisa memrogram dan hal ini benar adanya. Pengajar yang bisa memrogram pun banyak yang kurang bisa menjabarkan pengetahuan yang dia miliki atau memiliki wawasan yang sempit tentang dunia pemrograman sehingga tidak bisa memotivasi mahasiswanya. Jika mencari pemrogram saja sudah susah, tentunya ini masuk akal bahwa mencari pengajar yang kompeten di bidang pemrograman akan 5x lebih susah.
  • Tekanan sosio-kultural (terutama bagi wanita). Program studi informatika secara tradisional dianggap bukan jurusan untuk wanita dan banyak wanita ter-brainwash pesan itu. Wanita dihadapkan dengan pesan-pesan bertolak belakang yaitu menyelesaikan kuliah (di informatika) dengan baik namun kamu tidak akan bisa lebih baik daripada pemrogram pria (lho??). Akhirnya banyak yang menyerah dan yang penting lulus saja (seperti poin satu di faktor internal) jika akhirnya peran tradisional lebih dihargai oleh masyarakat, kenapa melawan dan mempelajari hal-hal yang tidak perlu seperti pemrograman?
Patut diketahui bahwa sedikitnya lulusan yang bisa memrogram (~ 20% berdasarkan salah satu argumen) ini lebih tidak terjadi di beberapa negara lain yang menekankan life-long learning (menghapus faktor internal 1 dan 2) dan memiliki pengajar yang kompeten.

Post a Comment

Previous Post Next Post