4 Layanan Video streaming selain youtube yang terbukti membayar - Om Heker

Friday, October 4, 2019

4 Layanan Video streaming selain youtube yang terbukti membayar

Baca Juga


Halo sobat om heker, kali ini omheker akan memberikan sedikit informasi tentang 4 Layanan Video streaming selain youtube yang terbukti membayar, apa saja layanan tersebut? yuk kita simak penjelasan dibawah ini.

Seperti yang sudah diutarakan pada jawaban sebelumnya, sebenarnya platform video itu banyak. Dari video yang biasa-biasa saja sampai yang berbobot pornografi. hahahha jawaban Yosua Herbi Pradika serius bikin ngakak. Tapi jangan lupa aktifin VPN dulu ya bro… kwkwwkwk
Youtube memang paling terkenal dari apapun bentuk platform video di seluruh dunia internetan itu karena berada di bawah naungan Google sebagai Search Engine terpopuler. Youtube sendiri sebenarnya bukan produk asli Google melainkan produk startup yang dibangun oleh Hurley, Chen, dan Karim pada 2005. Lalu Google mengakuisisinya pada akhir 2006 senilai US$1,65 miliar.
Info lengkap tentang hal ini bisa dibaca artikel dari Tech in Asia Indonesia.
Karena platform media sosial berbasis video itu banyak, saya coba uraikan platform yang juga punya sistem pembayaran mirip adsense Youtube ya.
  1. Vidio
    Vidio ini adalah platform asli Indonesia di bawah naungan PT VIDIO DOT COM. Secara tampilan hampir mirip dengan Youtube. Tetapi, Vidio punya produk khusus yaitu Vidio Premier dimana user bisa menonton film layar lebar juga. Tentunya dengan membayar terlebih dahulu. heehhe. Platform ini juga menyediakan fitur live stream dari berbagai stasiun televisi dan channel olahraga.

    Nah untuk konten kreator, agar bisa dibayar di Vidio.com - Video dan Tv Streaming di Indonesia mesti mendapatkan badge "Verified Content Partner" dengan bayaran Rp. 25.000/1000 view. Jadi perhitungan bayarannya agak beda ya dari Youtube. Syarat yang paling berat dalam mendapatkan badge adalah sudah mendapatkan 15.000 plays yang terbagi dalam 15 video yang diupload. Jadi 1 konten 1.000 plays/diputar.

    So, walaupun channel kamu gak ada yang follow/subscribe, tapi udah ditonton 15ribu kali, maka selamat kamu lulus syarat verified content partner.

    Kekurangannya, penonton di Vidio masih terbilang kecil kalau dibandingkan dengan Youtube. Malah sebagian besarnya merupakan penonton premium yang tujuannya cuma untuk nonton film. Jadi gak heran kalau trending topik di Vidio dikuasai oleh hampir sebagian besar dari platform portal berita dan stasiun TV. Malah bisa dibilang konten kreator individu gak ada sama sekali yang masuk trending topik. wkwkwkkw
  2. Facebook Ad Breaks
    Gak seperti Youtube, Facebook Ad Breaks merupakan program monetisasi dari Facebook untuk para akun Fanpage yang telah memiliki 10.000 pengikut. Monetisasinya bakal direalisasikan pada konten video yang diupload pada fanpage tersebut.

    Gak usah panjang-panjang, kunjungi aja halaman ini : How Facebook Video Ad Breaks Work: Video Ads for Publishers
  3. DailyMotion
    Gak beda jauh dari Youtube. Hanya saja di DailyMotion, kamu bisa mengaktifkan family filter atau tidak. Jika tidak diaktifkan, maka seluruh konten baik yang terindikasi masalah hak cipta maupun batasan umur bakal bisa bebas diakses. Makanya gak heran kalau DailyMotion sempat diblokir di beberapa negara termasuk Indonesia karena memuat konten yang erat dengan kampanye terorisme. Selain itu juga cukup banyak konten-konten semi disini. hahahaha

    Untuk aturan monetisasinya bisa dibaca halaman ini : Monetize with dailymotion
  4. Veoh
    Nah, kalau di Youtube kita akan disuguhkan dengan banyak konten yang diformat apik oleh konten kreatornya, di Veoh, video-video yang bersumber dari user kebanyakan bergaya amatir dengan kualitas gambar rendah. Kalau tidak salah, Veoh juga punya program monetisasi dilihat dari popularitas user tersebut dengan videonya. Tapi saya gak menemukan info yang banyak tentang hal ini.
Sebenarnya masih banyak lagi platform seperti Youtube. Misal Metacafe yang sebenarnya umurnya lebih tua dari Youtube, sejak 2003. Dan sampai 2009 masih berada pada rank tertinggi platform video populer.
Kekalahan Metacafe dimulai pada 2009 dengan dihentikannya program revenue sharing mirip adsense Youtube. Sehingga, konten-konten kreator mulai menghentikan kegiatan upload video mereka disana. Selain itu juga, Metacafe sempat tidak berbentuk karena masifnya video-video vulgar yang bebas diakses. Gak heran, kalau Metacafe juga sempat diblokir lama di Indonesia. Sama halnya dengan Vimeo yang juga sampai sekarang masih diblokir oleh Pemerintah.
Diblokirnya Vimeo juga karena sistem konten filternya yang lemah. Tetapi sebenarnya, Vimeo sendiri bagi saya cukup bagus karena banyak konten-konten film pendek yang dibuat oleh sineas-sineas muda di seluruh dunia lewat fitur Staff Pick-nya. Jadi Vimeo bagus sebagai referensi bagi penyuka film indie dan short movie terutama bagi sineas yang baru mau mulai belajar buat film.
Karena percuma saya link-an Vimeo disini sebab diblokir, maka saya inisiatif untuk skrinsut saja penampakan dari Vimeo tersebut. Sejauh yang kalian lihat di gambar, semuanya itu adalah film pendek, film indie, film dokumenter-indie.
Saya rasa, seharusnya sineas-sineas muda Indonesia mesti buat petisi untuk membuka blokiran pemerintah terhadap Vimeo. But its ok, selama ada VPN, Vimeo masih bisa kita akses.
TAMBAHAN:
INI BUKAN RECOMENDED, TAPI MESTI SAYA TAMBAHKAN DI LIST. YANG GAK KUAT LIAT VIDEO TABRAKAN, ORANG DITEMBAK, DLL GAK USAH DIBUKA ATAU DICARI YA.
Yup, dialah platform LiveLeak.com - Redefining the Media. Meski Live Leak ini sebenarnya sudah semakin diperbaharui. Sehingga video-video yang terlampau sadis tidak akan muncul di beranda depan. Sehingga kalau punya nyali yang kuat ya silahkan saja cari lewat kolom search.
Namun yang membuat LiveLeak ini bertahan lama hingga sekarang bukanlah karena konten-konten ngerinya, melainkan concernnya terhadap peristiwa terkini, politik, serta footage di daerah konflik.
Comments


EmoticonEmoticon